Rabu, 07 Maret 2012

Karena, hidup ini seperti secangkir kopi

Sekelompok alumni, mapan dalam karir mereka, berkumpul untuk mengunjungi profesor lama ketika mereka masih kuliah di Universitas. Percakapan segera berisi keluhan tentang stres dalam pekerjaan dan kehidupan. Menawarkan kopi kepada tamu, sang profesor pergi ke dapur dan kembali membawa satu teko besar kopi dan bermacam-macam cangkir : porselen, plastik, gelas, kristal. Beberapa cangkir tersebut biasa saja, beberapa mahal dan beberapa sangat indah. Dia kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk mengambil cangkir dan menuangkan sendiri kopi.



Setelah semua orang memegang secangkir kopi di tangan, profesor tersebut berkata ‘Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah dipilih, meninggalkan beberapa yang biasa dan murah. Bahwa hal tersebut wajar untuk kalian, karena kalian akan selalu menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri, dan itulah sumber dari segala masalah dan stres kalian.Yakinlah bahwa cangkir tidak menambah kualitas dan rasa kopi. Dalam banyak kasus, hal tersebut hanya menjadikan harga kopi lebih mahal dan beberapa kasus lain malahan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkir. Akan tetapi secara sadar, kalian memilih cangkir terbaik. Dan, kalian mulai saling melirik siapa yang mendapatkan cangkir terbaik’.
Jika direnungkan, hidup dapat diibaratkan sebagai kopi. Pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir. Mereka hanyalah alat untuk memegang dan menampung kopi (kehidupan) dan jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau mengubah kualitas dari hidup. Terkadang, dengan berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita menjadi tidak menikmati rasa kopi itu sendiri. Menikmati kopi, bukan cangkir ! Mereka yang berbahagia tidaklah memiliki yang terbaik dari segala sesuatu. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari sesuatu. Hidup sederhana. Bertutur kata sopan. Peduli kepada yang lain. Mencintai dengan tulus. Karena, hidup ini seperti secangkir kopi.

Bagi saya, rasa kopi jelas dan pasti dipengaruhi oleh jenis cangkirnya. Meminum kopi yang sama dari cangkir plastik, cangkir aluminium, cangkir sterofoan, cangkir gelas, maupun cangkir keramik pasti memberikan cita rasa yang berbeda. Saya sendiri menyukai cangkir keramik dan cangkir gelas, yang sedikit (bahkan mungkin tidak) bereaksi dengan kopi yang panas. (Ya.. saya tidak begitu menyukai kopi dingin). Ketika di hadapan saya tersedia beberapa pilihan cangkir kopi, tentu saya akan memilih cangkir gelas atau keramik. Tujuannya tidak lain karena saya ingin menikmati kopi yang enak.
Menginginkan yang terbaik. Saya yakin semua manusia pasti menginginkan yang terbaik untuk dirinya jika ada kesempatan. Menginginkan uang yang banyak untuk membiayai hidupya, posisi di masyarakat agar bisa dihargai,ataupun pekerjaan yang dijalani untuk menghasilkan penghidupan dan kehidupan yang baik. Dan ketika semua yang terbaik sudah didapat, tentunya kualitas hidup akan meningkat.

Lalu bagaimana mengukur kualitas hidup itu? Setiap orang punya standar yang berbeda. Ketika kita mencoba melirik “cangkir” milik orang lain, bisa saja saat itu kita sedang mengukur kualitas hidup kita. Mungkin di dalam hati terbersit keinginan ingin mencoba “cangkir” yang berbeda dengan cangkir yang kita pegang. Wajar saja. Toh,manusia memang tidak pernah puas. Tidak ada yang salah dengan mengganti “cangkir” selama kita tidak merebut/mengambil “cangkir” milik orang lain.

Apakah kita akan menjadi stress dan bermasalah dengan menginginkan yang terbaik? Tentu saja. Yang terbaik itu tidak akan didapatkan dengan mudah. Selalu ada usaha untuk itu. Stress dan masalah adalah bagian dari kehidupan yang harus dinikmati.
Ketika hidup diibaratkan dengan secangkir kopi, pastikan dulu cangkir yang kau suka, lalu nikmati kopinya.

Dikutip dari http://destinugrainy.wordpress.com/2011/05/25/karena-hidup-ini-seperti-secangkir-kopi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar